Tags

, , , , , ,

Om Swastiastu,,

Pancasila

Pancasila

     Di postingan artikel ini, saya akan memberikan sebuah artikel tentang, Kaitan Pancasila dengan Kasus Pemerkosaan di Indonesia. Ini adalah salah satu tugas PKN saya waktu di semester 1. Saya mempostingnya hanya untuk saling berbagi  saja. Bukan untuk hal-hal yang tidak berguna🙂 … Dan kenapa saya memilih gambar di atas? Supaya sebelum membaca artikel ini, reader harus mengingat kembali Pancasila kita :D… Okay, semoga bisa bermanfaat  dan menambah ilmu…

   Perkosaan adalah tindak kekerasan atau kejahatan seksual yang berupa hubungan seksual yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan dengan kondisi:

  1. tidak atas kehendak dan persetujuan perempuan,
  2. dengan “persetujuan” perempuan namun di bawah ancaman,
  3. dengan “persetujuan” perempuan namun melalui penipuan.

     Dewasa ini kasus pemerkosaan marak terjadi di masyarakat khususnya di Indonesia. Bukan hanya di kota-kota besar tetapi juga terjadi di pedesaan. Dan yang menjadi korban bukan hanya perempuan-perempuan yang masih muda, belia, tetapi juga perempuan-perempuan yang sudah lanjut usia (lansia), bukan hanya perempuan-perempuan yang memakai pakaian seksi, sampai kelihatan pinggan dan pusarnya, tetapi juga perempuan-perempuan yang berkerudung, bukan hanya gadis remaja atau anak-anak baru gede (ABG) tetapi juga anak di bawah lima tahun (balita) yang belum mengenal seks menjadi korban perkosaan.

     Dan yang menjadi pelaku bukan hanya laki-laki muda tetapi juga laki-laki yang sudah lanjut usia (lansia) bahkan tidak jarang seorang kakek, seorang paman, ayah tiri bahkan ayah kandung yang dipercayai dan dikenal korban yang seharusnya melindungi korban.

     Tindakan pemerkosaan terjadi secara spontan.  Biasanya pelaku pemerkosa sudah mempunyai niat dan dilakukan tergantung kesempatan. Bukan hanya terjadi di tempat sepi.  Kebanyakan kasus perkosaan terjadi di tempat yang “aman” termasuk di rumah, tempat kerja atau sekolah. Tindakan pemerkosaan tidak hanya dilakukan oleh laki-laki penderita gangguan jiwa, tapi dapat juga dilakukan oleh laki-laki normal.

     Contoh kasus – kasus pemerkosaan di Indonesia seperti yang terjadi di Kota Bogor seorang anak di cabuli ayah kandungnya sendiri selama 5 tahun. Yang lainnya pemerkosaan terhadap TKW Indonesia di Malaysia, pemerkosaan seorang kakek terhadap cucunya, dll.

     Dalam kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila kasus pemerkosaan sudah menyimpang dari sila ke-1 yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sila ke-2 yang berbunyi “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”. Tindakan pemerkosaan sudah jelas menyimpang dari sila pertama karena melanggar norma-norma yang diajarkan dalam ajaran agama. Selain itu pemerkosaan juga menyimpang dari sila kedua karena pemerkosaan adalah suatu tindakan yang tidak berperkemanusiaan dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) pada pasal 28 I Ayat (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

     Tindakan pemerkosaan juga tercantum pada pasal 285 KUHP “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun”.

     Kesimpulannya bahwa tindakan pemerkosaan terhadap perempuan, baik yang muda, lanjut usia, remaja, ABG ataupun balita, melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat dan juga tidak memahami ataupun mengerti tentang ajaran-ajaran agama yang di ajarkan di setiap agama. Pemerintah harus bisa mencegah terjadinya tindakan pemerkosaan,dengan menegakkan hukum yang tegas. Karena setiap wanita atau perempuan berhak mendapatkan perlindungan dari pemerintah.

Om Santhi Santhi Santhi Om …